Dear Februari

Kata orang bulan ini adalah bulan dimana merayakan kasih sayang , memberikan tanda kasih untuk orang spesial di satuhari istimewa. hari dimana semua tempat berubah menjadi warna pink muda berbentuk hati semanis cokelat yang dijual diberbagai gerai. namun tak kala istimewa dari satu hari itu adalah hari  lahirmu yang mungkin menjadi hari yang paling ditunggu untuk meniup lilin kecil untuk kita rayakan bersama. namun dihari itu juga aku memutuskan untuk pamit setelah sekian tahun aku kumpulkan keberanian setelah perpisahan yang tak diselesaikan secara baik - baik. dengan berat hati untukku melangkahkan kaki sebab rasanya tak lagi sanggup untuk bersama , seketika hatiku perih seperti disayat hidup - hidup mengingat untuk terakhir kalinya aku bersumpah untuk tidak lagi menginjakkan kaki disebuah rumah penuh kepalsuan menutup sebuah keburukan yang membela namanya. ku usahakan agar sedikitpun aku tak meneteskan air mata , berulangkali aku berusaha mendongakkan kepala mengusahakan agar airmata ini tak tumpah dari sorot mata yang secara sadar juga turut menyakitiku kala itu. siapa sangka setelah perpisahan, sorot mata yang menatap pamitku juga mendukung untukku melangkah pergi. walau sedikit berat rasanya, kulihat mata itu mulai berkaca berbinar seolah seperti sebuah ketidakrelaan melepaskan. namun siapa sangka? sorot mata yang kupercayai juga ternyata penuh kepalsuan. menghakimi dengan beberapa pertanyaan , ternyata bisa membunuhku secara perlahan secara mental. aku sungguh terpuruk saat itu, setelah beberapa bulan aku berpamitan mereka yang juga aku hormati itu ternyata diam - diam dengan gampangnya turut merestui selang berapa bulan aku berpamitan. aku merasa dunia tak adil sebab dihidup yang cuma sekali ini aku tak bisa menikmati hidup bersama dia yang kucintai dulunya. aku tak berhenti untuk membandingkan diri , menggerutu menyalahkan tapi hanya bisa kutahan sendiri. apa hendak mau dikata , takdir yang menyakitkan ini sengaja dibuat oleh manusia berkhianat dan bukan takdir tuhan , walaupun sebenarnya aku tak tau mungkin ini juga kehendak tuhan lewat jalur yang salah.

Komentar